Lensa Jurnalistik Islami - REPUBLIKPOS.COM REPUBLIKPOS.COM
Opini

Lensa Jurnalistik Islami

Foto: istimewa

MARHABAN YA RAMADHAN

By Suf Kasman

Ku tadahkan kedua tanganku ke langit tinggi, penuh harap tuk menyambut kehadiran-Mu. Kendati sedikit cemas “masih bisakah menggapai-Mu Ramadhan tahun ini”? Sisa 3 hari lagi versi kalender Hijriah berafiliasi sistem penanggalan Tiongkok dan Kliwon Jawa kuno.

Keraguan ini sedikit mengusik―mengingat akhir-akhir ini muncul musibah demi musibah datang silih bergantil tak terduga. Bencana datang kapan saja tanpa sinyal-sinyal halus dan kode morse petaka.

Betapa banyaknya saudara Muslim kita serayon Nusantara bermaksud memetik buah keagungan Ramadhan. Namun ‘Hasrat Hati Memeluk Gunung, Apa Daya Tangan Tak Sampai’.

Api selalu mengobarkan panasnya,
Lautan menghadang dengan ombaknya,
Angin puting beliung memporak porandakan lapisan jerambah.
Banjir ganas menggilas globe Pertiwi sebagai teguran seisi jagat raya. Salah satunya Flores Timur, NTT pekan ini.

Duka mendalam bagi saudara-saudara kita tidak bisa menikmati fadhilah Ramadhan, karena kontrak usia memaksanya berakhir, hanya sampai penghujung almanak Sya’ban.
Allahumma ballignaa Ramadhan (Ya Allah, panjangkanlah usia kami untuk bisa menikmati indahnya Ramadhan 1442H).

Oh Ramadhan!
Aneka jubelan manusia mengharapkan eksistensi-Mu kembali hadir dengan segera, termasuk sesama bumiputera dan non Muslim. Mereka juga menunggu kemunculan-Mu untuk menjajalkan pernak-pernik dagangannya; yang membuatnya ketiban rezeki nomplok.

Apatah lagi yang mengaku umat baginda Rasulullah SAW: rindu akan tradisi saling mengungkapkan rasa, menyejukan hati yang kekeringan, demi gandanya pahala dan kemenangan.

Semua Muslim bersuka ria ingin merasakan pancaran cahaya keindahan-Mu, menyebut saja nama-Mu jiwa-jiwa mereka langsung bergetar syahdu. Mereka bagai merasakan bumi berguncang hebat, hingga merobohkan sendi-sendi syak wasangka untuk berpuasa sebulan penuh, buat mendekatkan diri kepada Rabbul Izzati.

Pesona Ramadan telah membuat mereka bergelora nan energik, waktu dan tenaga diberikan ikhlas tanpa paksaan. Gejolak gairah cinta Ramadan dalam dorongan batin, membuatnya ingin berlabuh bersamanya “bersatu padu”. Sebagaimana layaknya datangnya seorang kekasih sedang menanti pertemuan dengan tambatan hati yang sudah lama dirindukan, untuk beradu cinta diantara kebahagiannya.

Setiap saat, tiada yang melintas di angannya, kecuali ‘menanti khalwat shaum Ramadhan’.
Saking cintanya kaumku menanti kedatangan-Mu, sejak Rajab & Sya’ban mereka sudah mulai melakukan pemanasan ‘ibadah’ premium.

Sambil melancarkan ‘puasa sunnah Senin-Kamis’, guna memperlancar peredaran semangat dan energi Ramadhani. Alunan kalimat thoyyib mulai menggema, lantunan kalam suci mengalun, menyirami dahaga kehampaan.

Oh Ramadhan!
Sebentar lagi Engkau hadir mewujudkan selongsong harapan keimanan dan percikan pendar-pendar Ilahi.
Sejak dulu orang tau, bahwa Engkau bagai gudang yang menyimpan “stok rahmat” tanpa habis dibagi orang yang merindukan-Mu.

Andai bisa ku-analogikan diri-Mu sebagai ladang luas nan subur, sungguh merugilah petani yang tidak mau menaburkan benih-benih ‘kebajikan’ di lahan produktif-Mu.
Celakalah umat yang enggan menambang ‘amal-amal saleh’ di bantaran Syahrun Karim-Mu. Bahkan, sial & apes-lah pribumi yang ber KTP Muslim, ogah menghidupkan sunnah-sunnah kekudusan-Mu.

Sekali lagi,
Bulan ganjaran kebaikan sudah dipelupuk mata, akan berwujud dengan style elok nan inayat. Bertekad-lah mempersembahkan kualitas puasa yang terindah, shalat yang paling khusyu’, bacaan Al-Quran sarat tadabbur, dzikir dengan sepenuh hati, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar, kepedulian akan kesehatan jiwa dan raga, serta perbuatan baik kepada sesama.

Aktifkan aplikasi tuk saling memberi nasehat; MALILU’ SIPAKAINGE’, MALI’ SIPARAPPE’, REBBA SIPATOKKONG.

Janganlah sia-siakan waktu mulia untuk ‘ber’fastabiqul khaerat’ di syahrun magfirah, karena hal itu akan mendatangkan penyesalan berlarut-larut, kesempitan hati, kesuraman jiwa yang tidak akan bisa dihilangkan kecuali murni taqarrub kepada-Nya.

Demi meraih surga Ar-Rayyan sebagai ganjaran orang yang berpuasa, aku awali kebersihkan jiwa dan raga untuk menatap cahaya menuntun jalan meraih fadhilahnya. Ku mengetuk pintu-Mu ingin meneduhkan jiwa dari gelisahnya khilaf & dosa yang tlah terukir lama membanjiri tubuh.

Gumpalan dosa mencemari raga yang semakin renta. Saking banyaknya noda hitam bergumul membentuk oksida karatan―sekiranya dihitung menggunakan mesin kalkulator, mesin penghitung teknologi canggih itu―pasti tak sanggup menampung dosa-dosa millenialku yang terus terupdate setiap hari, saking banyaknya mendulang.
Tumpukan kotoran demi kotoran menjijikkan yang mendarah daging menjadi ‘molekul’ momok menakutkan di yaumil hisab kelak.

Marhaban ya Ramadhan,
Selamat Datang wahai Bulan Suci Ramadhan!
Engkau bulan penuh rahmat, Anda yang padat pengampunan, Engkau yang komplet Ridha Tuhan. Maha besar anugerah berlimpah atas napas yang Engkau kandung.

Ya Rabb, izinkanlah aku untuk berubah!
Aku sang pendosa berharap ampunan dari khilaf serta kedurhakaan yang durja.
Pernak-pernik warna hitam, kelam, dan suram masa lalu pernah ku jamah.
Aku malu terhadap semua yang kulakukan.

Akulah penyanjung “cantiknya” kebohongan.
Penikmat “eloknya” maksiat dan kemungkaran.
Pengobral cerita Israiliyat di mimbar maupun di mayapada. Keluar dari mulutku penuh lancang hanya membuat jamaah tertawa terkekeh-kekeh tanpa ilmu.

Ya Rabb, berilah aku setetes harapan untuk menatap cahaya-Mu melalui bingkai Ramadhan.
Ridha Mu-lah yang senantiasa aku harap.
Terimalah sujud taubat ku.
Jamahlah aku dan basuhlah nurani ku.
Hanya di bawah lembayung Rahmat Mu kuharap slalu.

Tabe’ Maloppo!

Kintamani, 10 April 2021

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top