Lensa Jurnalistik Islami, Ujaran Kebencian oleh: Suf Kasman - REPUBLIKPOS.COM
Opini

Lensa Jurnalistik Islami, Ujaran Kebencian oleh: Suf Kasman

Suf Kasman, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar

KEBENCIAN merupakan bentuk pelampiasan emosi kerap terjadi karena kesal.
Deruan kencangnya rasa benci bisa datang dari mana saja, tidak mengenal siapa pun kisanak.

Pemantiknya bisa pula berupa kedongkolan, kejengkelan serta sebal. Akumulasi perasaan bad mood itu membentuk luapan sentimen negative membuncah, akhirnya muncul figurasi kebencian yang berjilid-jilid.

Dulu, istilah ‘benci’ bisa merujuk pada rasa rindu, benci tapi rindu. Benci dan rindu adalah dua sifat yang berbeda, tetapi tidak dapat dipisahkan dan juga sulit dipersatukan.

Ada dugaan membenci itu berarti mencintai. Seseorang yang terlanjur mencintai kekasihnya, harus siap-siap berakhir lara, patah hati ALOSI POLO DUA.

Kebencian tidak akan mampu menghapus kebencian serupa; hanya cinta yang mampu melakukannya.

Jika Anda  bekerja untuk memenangkan sang jagoan di pesta demokrasi, namun tidak disertai dengan cinta, lebih baik jangan menjadi simpatisan & pendukung.

Aku belum tau apa yang menyebabkan seseorang kerap mencetuskan kata-kata menyerang dan bernada benci terhadap seorang individu atau kelompok?

Bertindak atas nama emosi dan kebencian, SIANRE BALE, PADA IYA.

Umpatan-umpatan keji kian membahana, diselingi basuhan celaan yang meronta.
Seperti tidak ada lagi harapan, semua hilang tersapu tsunami.

Persaudaraan pribumi menghilang digulung ombak kebencian.

Ujaran kebencian hanya menggelapkan jiwa terdalam
Penuhi hati dengan bakteri kebengisan
Mendulang memori rasa sakit hati dan sewot.

Sudahilah, jangan ada benci lagi yang bersemi, sesungguhnya benci itu meracuni ruhanimu.
Hanya mengais serpihan demi serpihan hadirnya musuh.

Inilah yang mendera bangsa kita akhir-akhir ini.

Bermunculan aksi menghasut orang lain untuk membenci pihak (subyek orang) tertentu, baik melalui postingan media konvensional, digital juga kerap ditemukan segelintir manusia temperamental di kedai kopi, terminal kafe, wisata kuliner, dll.

Luapan emosi disusul banjir bandang kebencian, masih menduduki peringkat teratas & kualifikasi terparah seantero nusantara.

Banyak kerugian yang terjadi akibat ulah orang yang tidak mampu mengontrol diri. Sebenarnya, orang yang selalu menebarkan ujaran kebencian akan merugi sendiri suatu saat, karena hati mereka tak pernah tenang dan selalu dihantui rasa benci mendalam.

Ketahuilah, kebencian yang meledak-ledak sebagai tanda mental yang tidak stabil pada diri orang tersebut?

Jika kebencian dibalas kebencian, itu namanya dendam (PAJJAGGURU’ MABBENNI). Bila kebaikan dibalas kebaikan, itu biasa-biasa saja.

Manakala kebaikan dibalas kejahatan, zalim namanya. Tetapi, andai kejahatan dibalas dengan kebaikan. Itulah yang disebut akhlak mulia dan pribadi yang terpuji.

Dalam seratus orang IPETTE’ TANA WERRE’, MAUPE’ ENGKA SEDDI!

Pesta demokrasi telah selesai, namun masih bergulir emosi-emosi tak terkendali oleh 2 kesebelasan “Kampret vs Kadrun”. Keduanya belum berhenti mencetak gol-gol kebencian.

Jaring gawang masih bergetar hebat oleh bola liar dendamnya. Keduanya merupakan tim tangguh masih terus bergerak membangun serangan-serangan ala menekan, tanpa mematuhi kode etik lapangan. Nampaknya pemain memiliki jiwa kolektif mengotori fairplay dalam sepakbola.

Wasit dalam stadion gelora seharusnya menjadi penengah (pengadil jujur) dan tidak memihak, namun ia membuat sebagian pihak merasa diperlakukan dengan tak adil.

Sehingga memancing emosi penonton yang berunjung pada keonaran di dalam stadion lalu dilanjut di luar lapangan.

Inilah yang melahirkan permusuhan abadi dua komunitas fanatic tersebut, kini masih melakukan parade ‘kebencian’ di luar stadion.

Cemoohan & kebencian yang mereka sorakkan, sebenarnya sudah terdengar di telinga jagoannya, namun tidak difollow up. Di sinilah letak masalahnya, karena tidak ada yang mau menenangkan komunitasnya.

Saudaraku sebangsa dan setanah air, mari menenangkan diri karena menabur ujaran kebencian akan membuat kita tidak bisa berpikir dengan tenang.

Mariki’ di!

Mamuju, 14-2-2021

Oleh; Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar
Suf Kasman

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top