Audiens dengan FPD, IDI Ungkap Lemahnya Penanganan Covid-19 di Indonesia - REPUBLIKPOS.COM
Nasional

Audiens dengan FPD, IDI Ungkap Lemahnya Penanganan Covid-19 di Indonesia

Republikpos, Jakarta – Ketua Fraksi Partai Demokrat (FPD) DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono mengapresiasi kerja tulus para dokter dan tenaga medis di berbagai daerah di Tanah Air dalam penanganan Covid-19. Hal itu disampaikan Ibas saat menerima audiens Ikatan Dokter Indonesia dengan FPD di ruang rapat FPD Gedung Nusantara Lt 9, Senayan, Jakarta, Jumat (10/6/2020).

Dalam pertemuan itu, Ibas juga mengungkapkan bahwa FPD dan Partai Demokrat telah turut serta meringankan beban masyarakat melalui Gerakan Nasional Partai Demokrat lawan Corona dan Gerakan Nasional Partai Demokrat Peduli dan Berbagi.

‘’Alhamdulillah, sedikit walaupun tidak sebesar pertolongan yang memang dibutuhkan Tanah Air. Kami menggalang support dari internal kader, anggota FPD dan dari jejaring lainnya yang kemudian kita menyerahkan bantuan-bantuan secara langsung dan secara nasional,’’ kata Ibas.

Audiens yang dihadiri Ketua Umum IDI Dr. Daeng M Faqih, SH, MH dan kolega, juga para pimpinan dan anggota FPD ini antara lain membahas tantangan dan hambatan yang dihadapi dokter dalam penanganan Covid-19.

IDI mengungkapkan bahwa kasus positif per 8 Juli bertambah 1.853 kasus baru yang merupakan angka tertinggi dengan total akumulatif mencapai 68.079 orang. Ada beberapa faktor yang mendorong kenaikan jumlah positif covid-19 yang terkonfirmasi yaitu pemeriksaan orang yang datang ke rumah sakit dan orang yang terlacak dalam pelacakan dari kasus positif meningkat, ada peningkatan di lokasi tertentu, kemampuan laboratorium untuk memeriksa jumlah sampel meningkat.

Proses diagnostik pada kasus covid-19 juga dinilai lamban. Hal ini menjadi kelemahan penanganan Covid-19 di Indonesia. ‘’Kemampuan laboratorium masih sangat terbatas, sehingga antrean sampel yang sangat banyak membutuhkan waktu kisaran 1-2 minggu hingga sampel atau diagnosanya bisa diketahui. Persoalan ini mesti segera ada solusinya dalam menghadapi kondisi yang penuh keterbatasan,’’ kata Daeng M Faqih, KetuaUmum IDI.

IDI juga menyampaikan, ketika pemerintah mulai melonggarkan pembatasan di berbagai wilayah, jumlah tenaga medis yang meninggal juga meningkat. IDI mencatat, 48 dokter tutup usia di tengah wabah hingga 8 Juli 2020. ‘’Sebagian dokter meninggal setelah kontak dengan pasien tanpa gejala yang berobat ke klinik mereka. Selain dokter, 41 perawat tutup usia setelah terinfeksi virus corona,’’ tambah Daeng. Persoalan lain, realisasi pencairan insentif untuk tenaga medis baru 7,80 persen dari dana insentif yang dianggarkan pemerintah sebesar Rp5,6 triliun.Untuk itu, perlu ada upaya akselerasi proses verifikasi pencairan insentif tenaga kesehatan.

Terkait hal ini, Ibas sendiri menegaskan bahwa FPD akan terus mengawal kebijakan penanganan Covid-19 yang belum sepenuhnya sesuai harapan. Penyarapan dana Covid-19 yang belum maksimal, juga disebutkan Ibas sebagai concern FPD yang terus disampaikan kepada pemerintah. ‘’Distribusi peralatan kesehatan juga belum maksimal. Kami merasakan keprihatinan tenaga medis, bagaikan tentara di garis perbatasan yang hendak berperang tetapi tidak dibekali dengan senjata,’’ papar Ibas.

Pihak IDI juga menegaskan bahwa pelonggaran PSBB dinilai terlalu dini karena angka kasus baru saja mencapai puncaknya sementara tes massif saja belum sepenuhnya dilakukan. Hal lain, Kemenkes menetapkan batas tertinggi pemeriksaan rapidtest antibodi untuk mendeteksi virus corona (Covid-19) sebesar Rp. 150.000 yang tertuang dalam Surat Edaran Nomor HK. 02.02/I/28755/2020 tentang Batasan Tarif Tertinggi rapidtest antibodi.

‘’Namun, belum ada standarisasi harga untuk tes swab yang saat ini harganya cukup mahal dengan besaran yang variatif. Padahal pasar semakin kompetitif, harusnya harganya menjadi lebih murah, jangan sampai tes ini menjadi ladang bisnis. Untuk itu, HET dan tata niaga untuk tes swab juga perlu ditetapkan guna memberikan kepastian harga pada masyarakat,’’ beber Daeng.

IDI menilai, kebijakan pemulihan ekonomi antara lain melalui keputusan menjalankan masa new normal kerap tidak mengikuti arah pandangan soal kesehatan masyarakat. ‘’Hal itu seperti pembukan mal-mal, tempat wisata, sekolah, hotel, dan saran hiburan lain (seperti: carfreeday). Ini dapat menjadikan kasus covid-19 dapat melonjak dan tidak dapat terkontrol lagi,’’ papar Daeng lagi. (rilis)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top