Selain Pengakuan Pemerintah Pusat, LAMAHU Dorong Hari Patriotik Masuk Kurikulum Sejarah di Gorontalo - REPUBLIKPOS.COM
Daerah

Selain Pengakuan Pemerintah Pusat, LAMAHU Dorong Hari Patriotik Masuk Kurikulum Sejarah di Gorontalo

Republikpos, Jakarta – Warga Gorontalo yang bermukim di Jabodetabek memperingati Hari Patriotik 23 Januari 1942 yang dirangkaikan dengan pengajian bulanan LAMAHU (Huyula Heluma Lo Hulondalo) yang berlangsung di Masjid As-Sakinah, Panasonic Gobel, Jalan Dewi Sartika No 14, Cawang II Jakarta Timur baru-baru ini.

“Hari Patriotik diperingati warga Gorontalo rantau dengan sederhana. Berbeda di Gorontalo yang berhasil membentangkan bendera merah putih sepanjang 2.300 meter hingga meraih rekor MURI,” ungkap Djafar Badjeber tokoh Nasional asal Gorontalo.

Djafar menyebut masyarakat Gorontalo bangga dan setia pada bendera merah putih, baik sebelum merdeka maupun setelah merdeka. Semangat bela merah putih itu dengan semboyan “Sekali ke Jogja Tetap ke Jogja”. Alasannya, karena saat itu Gorontalo dibawah Negara Indonesia Timur bersama Negara Sumatera Timur, Negara Pasundan dan Negara Madura.

“Gorontalo dibawah kepemimpinan pahlawan nasional bapak Nani Wartabone meminta Negara Indonesia Timur dibubarkan agar Gorontalo segera bergabung dengan NKRI,” ujar Jafar.

Setelah bergabung dengan NKRI, Gorontalo bukannya selesai dari persoalan. Tahun 1958 hingga 1961 Gorontalo dibawah pimpinan Nani Wartabone harus berjuang melawan pemberontakan Permesta (perdjuangan  rakjat semesta) dibawah komando Ventje Samual.

“Jadi, harapan saya warga Gorontalo di perantauan harus tetap semangat dan tetap bertanggung jawab pada NKRI,” ucap Jafar.

Terpisah, Ketua Umum Lamahu Abdul Harris Bobihoe, bersyukur masyarakat Gorontalo memiliki satu sejarah yang tidak bisa diabaikan, yakni Hari Patriotik 23 Januari 1942 yang diperingati setiap tahun.

Abdul Harris berharap peringatan ini jangan hanya menjadi upacara seremonial, tetapi ada pengakuan dari pemerintah pusat bahwa 23 Januari itu menjadi sejarah untuk diketahui anak bangsa, secara nasional maupun internasional.

“Insya Allah Lamahu membentuk suatu tim kajian ilmiah secara akademik. Hasilnya kita bawa ke forum nasional,” ujar Harris.

Sebenarnya, rekan-rekannya yang ada di Jakarta ini menginspirasi warga Gorontalo lainnya. Mereka adalah tokoh-tokoh yang hebat, seperti Wakil Ketua DPR-RI Rachmat Gobel, Menpora Zainudin Amali, Menteri PPN Suharso Monoarfa, Wakil Ketua MPR-RI Fadel Muhammad.

“Saya kira ini potensi sangat besar di pusat. Kita upayakan bekerja sama dan Hari Patriotik 23 Januari dapat pengakuan dari pemerintah pusat,” tambahnya.

Selain itu kedepan, diupayakan Hari Patriotik menjadi kurikulum sejarah di Gorontalo. Ini sejarah muatan lokal yang harus diketahui oleh pelajar, generasi milenial. Pengadaan kurikulum dilakukan setelah Hari Patriotik 23 Januari dapat pengakuan dari pusat. Apalagi Nani Wartabone sudah tercatat sebagai Pahlawan Nasional. Tentu saja kemerdekaan Gorontalo juga diapresiasikan secara Nasional.

“Ini yang kita upayakan. Insya Allah peringatan 23 Januari tahun depan bisa lebih baik lagi, sesuai apa yang kita harapkan terutama warga Gorontalo rantau di Jabodetabek,” harap Harris.

Pewarta: Zakir

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top