Pemangku Raja Besar Gorontalo Silaturahmi ke Kesultanan Siak Sri Indrapura  - REPUBLIKPOS.COM
Daerah

Pemangku Raja Besar Gorontalo Silaturahmi ke Kesultanan Siak Sri Indrapura 

alterntif text

Republikpos, Riau – Delapan Kesultanan nusantara terdiri dari kesultanan Aceh, kesultanan Makasar, kesultanan Korea, kesultanan Gorontalo, panglima kesultanan Aceh, kekerabatan kesultanan Siak, kesultanan Mandailing Natal, melakukan kunjungan silaturahmi ke Kesultanan Siak Sri Inderapura, di Kabupaten Siak, Provinsi Riau, Senin (5/8/2019). Kesultanan Gorontalo diwakili oleh Pemangku Raja Besar Gorontalo Syaikh Rudy Wahab.

Menurut Syaikh Rudy Wahab, silaturahmi seperti ini kedepan diharapkan akan semakin intensif dan berkelanjutan agar apa yang menjadi cita-cita para Sultan terdahulu, bersatunya kerajaan atau kesultanan yang ada di nusantara untuk majunya Indonesia.

“Kami sangat mengapresiasi Pengorbanan yang luar biasa dari Sutan Syarif Kasim II kepada Bangsa dan Negara Kesatuan Republik (NKRI) ini dengan menyerahkan tahta dan hartanya melalui Soekarno,” ujar Syaikh Rudy Wahab.

Pemangku Raja Besar Gorontalo juga berharap, sesuai garis keturunan Sultan yang ada melalui Lembaga Adat Melayu Riau dan para tokoh dan pemuka agama di Riau, bisa bersama-sama menghidupkan kembali secara legitimasi dan sah Kesultanan Siak Sri Inderapura dengan dipilih dan diangkatnya Sultan yang baru.

Acara silaturahmi kunjungan terhormat kesultanan nusantara tersebut dihadiri Komandan Lanal kota Dumai, pihak pertamina, Pelindo Kota Dumai dan seluruh pengurus lembaga adat Melayu Riau Kota Dumai, kekerabatan Sultan Siak Dumai, Komite Melayu bersatu Dumai.

Kesultanan Siak Sri Inderapura sendiri adalah sebuah Kerajaan Melayu Islam yang pernah berdiri di Kabupaten Siak, Provinsi Riau, Indonesia. Kesultanan ini didirikan di Buantan oleh Raja Kecil dari Pagaruyung bergelar Sultan Abdul Jalil pada tahun 1723, setelah sebelumnya terlibat dalam perebutan tahta Johor. Dalam perkembangannya, Kesultanan Siak muncul sebagai sebuah kerajaan bahari yang kuat dan menjadi kekuatan yang diperhitungkan di pesisir timur Sumatra dan Semenanjung Malaya di tengah tekanan imperialisme Eropa.

Pasang surut kerajaan ini tidak lepas dari persaingan dalam memperebutkan penguasaan jalur perdagangan di Selat Malaka. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sultan Siak terakhir, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya bergabung dengan Republik Indonesia.

Sultan Syarif Kasim II juga tidak segan-segan menyerahkan mahkota dan sebagian besar kekayaannya. Ini dilakukan sebagai penegasan bahwa Kesultanan Siak Sri Inderapura yang dipimpinnya meleburkan diri ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

13 juta gulden setara 69 juta euro atau lebih dari 1 triliun rupiah. Senilai itulah yang diberikan secara cuma-cuma oleh Sultan Syarif Kasim II kepada Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno.

Pewarta: Rais Kamali

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top