Miris, Pramuka Peserta Kemah Bakti Dimobilisasi Dengan Truk Sampah - REPUBLIKPOS.COM
Daerah

Miris, Pramuka Peserta Kemah Bakti Dimobilisasi Dengan Truk Sampah

sejumlah anggota pramuka peserta kemah bakti saka kalpataru dan wana bakti yang diangkut dengan truk sampah milik pemkab pangkep. foto: Istimewa
alterntif text

SULSEL (REPUBLIKPOS) – Kemah Bakti Saka Kalpataru dan Wanabakti (PERTIKAWAN) tingkat Ragion Sulawesi-Maluku yang dilaksanakan di Tonasa Park, Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan, pelaksanaannya terkesan dipaksakan dan tidak lagi mengindahkan sistem dan metode giat dalam Gerakan Pramuka.

Bukan hanya itu penyelenggara perkemahan terkesan ingin memisahkan antara Satuan Karya dan Gerakan Pramuka. Terbukti bahwa panitia penyelenggara menutupi logo Kepanduan Sedunia atau WSOM dan logo Tunas Kelapa sebagai logo Kepanduan Indonesia di seluruh spanduk dan baliho yang terpasang di area perkemahan.

Ketua Dewan Kerja Penegak Pandega Kabupaten Luwu Utara Jamaluddin Ali, menjelaskan bahwa Satuan Karya adalah badan kelengkapan Kwartir yang diberikan tugas untuk membina anggota gerakan Pramuka golongan Penegak Pandega atau usia 15 s.d 25 tahun.

Menurutnya tidak seharusnya Instansi atau lembaga yang membina Satuan Karya harus memisahkan antara Pramuka dan Satuan Karya. “Satuan karya (SAKA) itu adalah badan kelengkapan Kwartir, yang diberikan tugas untuk membina anggota Pramuka sesuai minat dan bakat setiap anggota, jadi SAKA itu adalah milik Pramuka. Kalau dalam kegiatan harus menghapuskan logo Pramuka berarti penyelenggara menganggap bahwa SAKA itu bukan bagian dari gerakan Pramuka,” katanya.

Selain itu pula, Jamaluddin Ali juga menyayangkan sikap pihak penyelenggara yang memobilisasi peserta dalam kegiatan dengan menggunakan truk sampah milik Pemerinta Kabupaten Pangkep.
Menurutnya Kemah Bakti yang dilaksanakan oleh Kementrian Kehutanan itu sangatlah dipaksakan. Apalagi pihak penyelenggara dalam hal ini Kementrian tidak berkoordinasi dengan pihak Kwatir Daerah Sulawesi Selatan dalam hal ini Dewan Kerja Daerah (DKD) yang menangani bidang Penegak Pandega di SulSel.

“Saya menghubungi kakak kakak yang dimandatkan untuk mendampingi kontingen Luwu Utara di Pangkep. Pengakuannya betul bahwa ada peserta yang di mobilisasi menggunakan truk pengangkut sampah. Jelas ini sudah melanggar himbauan Kwartir Nasional Nomor 0052-00-C tahun 2014 tentang larangan menggunakan kendaraan terbuka dalam mobilisasi dalam kegiatan Pramuka,” ungkapnya

Lebih lanjut Jamal menjelaskan, bahwa dalam melaksanakan giat Pramuka itu tidak semudah apa yang dibayangkan. Perlu betul betul di pertimbangkan apalagi giat Pramuka itu diatur dalam petunjuk pelaksanaan sesuai putusan Kwartir Nasional.

“Melaksanakan giat Pramuka itu tidak semudah apa yang dibayangkan, harus jelas mulai dari persiapan sampai dengan berjalannya kegiatan. Karena setiap kegiatan dalam Pramuka telah di atur juknis nya, baik itu Giat Bakti, Jambore, Raimuana, dan sebagainya, harus memperhatikan juklak itu. Apalagi harus mengedepankan prinsip dasar dan metode kepramukaan, kan tidak etis kalau peserta harus diangkut pakai truk sampah. Padahalkan bisa koordinasi ke Kepolisian atau TNI untuk bantuan Dalmas. Ini kegiatan Region Sulawesi dan Maluku, melibatkan peserta dari luar Sulsel, harusnya hal-hal kecil seperti itu diperhatikan”. tutup Jamal.

PENULIS: M. Indra

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top