Tumbilotohe, Tradisi dan Makna yang Terkandung – REPUBLIKPOS.COM
Daerah

Tumbilotohe, Tradisi dan Makna yang Terkandung

LIMBOTO, Republikpos.com – Tumbilotohe atau menyalakan lampu adalah tradisi dan budaya masyarakat Gorontalo yang kental dengan ajaran Islam. Tradisi perayaan tumbilotohe ini sudah ada sejak dulu dan selalu dilakukan oleh masyarakat Gorontalo di penghujung Ramadhan, yakni pada 3 malam terakhir menjelang hari Raya Idul Fitri.

Tumbilotohe sendiri adalah bahasa Gorontalo, yang terdiri dari 2 suku kata, yakni tumbilo yang berarti pasang, dan tohe yang berarti lampu. Jadi tumbilotohe memiliki arti pasang lampu.

Kepada Adat Limboto (Bate Lo Limutu), Darisman Katili, mengungkapkan jika tradisi Tumbilotohe sudah dilakukan oleh masyarakat Gorontalo sejak abad ke-15 Masehi. Oleh masyarakat Gorontalo zama dulu, lampu yang dinyalakan adalah lampu tradisional yang terbuat dari damar dan getah pohon yang mampu menyala dalam waktu lama. Namun seiring perkembangan zaman, dimana semakin berkurangnya damar, maka bahan lampu penerangan diganti dengan minyak kelapa (padalama) dan kemudian diganti dengan minyak tanah.

Sesuai tradisi asli masyarakat Gorontalo, kata Darisman, pemasangan tumbilote harus mengunakan alikusu (bambu tersusun dua yang menjadi tempat untuk menggantungkan lampu). Dan secara adat tidak dibolehkan memakai bahan yang lain seperti sekarang ini.

“Secara hukum adat, Tumbilote tidak bisa digantikan dengan cara yang moderen. Jika dilakukan kemungkinan akan mendapatkan bito atau bala menurut pemahaman nenek moyang kita dulu. Memang adat harus menyesuaikan dengan zaman tapi tanpa mengurangi nilai-nilai yang tertuang dalam adat tersebut.” kata Darisman.

Pada hakekatnya, Tumbilotohe mengandung 4 unsur, yakni, Tulu (Api), Taluhu Air), Dupoto (Udara), Huta (Tanah). Yang kesemua unsur tersebut mengandung makna tersendiri, yaitu api yang berarti memelihara diri dari api neraka, udara yang berarti ruh manusia yang ditiupkan saat oleh Allah saat menyempurnakan kejadian manusia, sedangkan air adalah dijadikannya manusia memiliki keturunan yang banyak dari setetes nutfah, dan tanah memiliki arti awal kejadian manusia yang diciptakan dari segumpal tanah.

“Pemahaman orang tua dulu mengapa menyalakan lampu atau Tumbilotohe ini nanti setelah magrib karena diiringi dengan doa surat Al-Qadr dengan arti malam kemuliaan, dimana Al Quran diturunkan untuk menerangi iman umat manusia. Sisi lain dari Tumbilotohe juga adalah pada waktu dulu menyalakan lampu tradisional, untuk menerangi jalan-jalan menuju masjid.” jelas Darisman.

Dengan seiring berkembangnya jaman tradisi perayaan ini mulai terkontaminasi dengan modernisasi. Banyak masyarakat melakukan perayaan Tumbilotohe dengan lampu-lampu listrik. Hal inilah yang menyebabkan nilai-nilai dari tradisi budaya masyarakat Gorontalo ini mulai menurun.(em)

Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top