Tumbilotohe, Tradisi Yang Mulai Kehilangan Jati Diri – REPUBLIKPOS.COM
alterntif text
Daerah

Tumbilotohe, Tradisi Yang Mulai Kehilangan Jati Diri

Lampu botol. Foto: Even Makanoneng.

GORONTALO, Republikpos.com – Tradisi tumbilotohe atau malam pasang lampu sudah ada sejak abad ke 15. Tradisiyang sering dilaksanakan oleh masyarakat Gorontalo saban 3 hari menjelang Hari Raya Idul Fitri ini, pada awalnya hanya menggunakan wango-wango, yaitu alat penerangan yang terbuat dari wamuta atau seludan yang dihaluskan dan diruncingkan, kemudian dibakar.

Pada tahun-tahun berikutnya, alat penerangan mulai menggunakan tohe tutu atau damar, dan kemudian berkembang lagi menggunakan sumbu dari kapas dan minyak kelapa, yang selanjutnya lagi berkembang dengan menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakarnya.

Akan tetapi, tradisi ini seakan kehilangan jati dirinya oleh karena mulai tergerus perkembangan zaman. Tradisi yang dulunya menggunakan lampu tradisional, kini berganti dengan lampu hias modern.

Tradisi yang menjadi kebanggaan dari masyarakat Gorontalo ini sendiri pernah masuk dalam rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) pada tahun 2007 silam, berkat lima juta lampu botolnya. Namun kini lampu-lampu botol itu perlahan mulai berganti dengan lampu LED warna-warni.

Hal ini mengundang kontroversi dikalangan tokoh adat dan budayawan serta masyarakat Gorontalo pada umumnya. Selain itu pula, perubahan ini juga mendapat keluhan dari wisatawan domestik maupun mancangera yang datang berkunjung ke Gorontalo, hanya untuk menyaksikan tradisi ini. Meskipun dibeberapa tempat masih ada yang tetap mempertahankan kearifan lokal dari tradisi Tumbilotohe.

Lampu moderen yang mulai menggeser keberadaan lampu tradisional pada pelaksanaan festival Tumbilotohe di Gorontalo. Foto: Fandi Ismail.

Ketua Dewan Adat Provinsi Gorontalo Drs. H. Karim Pateda, MM. saat diwawancarai lewat telepon oleh reporter Republikpos.com mengungkapkan bahwa tradisi tumbilotohe dalam pelaksanaannya memiliki dasar hukum yang merujuk pada surat Al-Qadr, yang isinya pemberitahuan akan adanya malam seribu bulan yang pada bulan Ramadhan ada pada 10 hari terakhir atau pada malam ganjil.

“Oleh para ulama dulu disimpulkan berada pada malam ganjil yaitu pada 3 hari sebelum Idul Fitri, oleh sebab itu Tumbilotohe dilaksanakan dengan maksud untuk menerangi jalan menuju tempat ibadah. Penerangan yang digunakan karena belum berkembangnya zaman masih menggunakan alat penerangan tradisional seperti wango-wango, tohe tutu, sampai menggunakan minyak kelapa dan minyak tanah.” kata Karim Pateda.

Ketua Dewan Adat Gorontalo, Drs. H. Karim Pateda, MM.

Lebih lanjut, Karim Pateda menjelaskan bahwa dari kajian dewan adat Gorontalo, Tumbilotohe selain bertujuan untuk menerangi jalan umat muslim yang hendak beribadah ke masjid, juga memiliki makna pada menyalakan sumbu sama dengan menyalakan kembali rasa keimanan umat muslim di Gorontalo. “Oleh sebab itu penggunaan lampu moderen sekarang ini telah menghilangkan nilai dan makna dari Tumbilotohe,” tukas Karim Pateda.

Untuk itu, Karim berharap agar Pemerintah Daerah bersama tokoh adat, masyarakat, dan kaum muda, dapat berkolaborasi untuk mempertahankan nilai dan makna dari tradisi Tumbilotohe ini.

“Pemerintah mesti berkolaborasi bersama tokoh adat, masyarakat, kaum muda untuk tetap mempertahankan kearifan lokal dari tradisi tumbilotohe dengan tetap menggunakan lampu tradisional.” pungkas Karim Pateda.

PENULIS: Fandi Ismail

alterntif text
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

alterntif text
To Top