Daerah

Perangi Narkoba, BNN Rekrut 1000 Relawan di Manado

octa
kombes pol. charles ngili, Kepala BNN SUlut

SULUT,– Status Indonesia darurat narkoba bukan hanya sekedar isapan jempol belaka. Menurut data Badan Narkotilka Nasional tercatat, narkotika jenis shabu dan ganja, yang sudah masuk ke Indonesia dan tidak keluar lagi, jumlahnya mencapai lebih dari 1100 ton. Bahkan jumlah ini dicapai hanya dalam kurun waktu dua tahun saja, yakni dari tahun 2016 sampai 2017.

Kepala Badan Narkotika Nasional Sulawesi Utara, Brigjen Pol Charles Hilmar Ngili, dalam paparannya, dihadapan peserta relawan anti narkoba, menguraikan bahwa kondisi ini sudah sangat urgen. “coba bayangkan ribuan ton ini sudah di Indonesia, dan sudah menyebar di hampir seluruh daerah yang ada di Indonesia. Berapa banyak korban dari anak cucu kita dari generasi bangsa ini yang dijebak dengan barang haram tersebut.” tegas mantan Wakapolda Sulut ini geram.

Dan dalam kurun waktu dua tahun ini, lanjut Ngili, baru sekitar 10 sampai 15 ton narkoba yang bisa diungkap. “yang seribu ton ganja dan shabu kemana? Kita mau dari masyarakat itu kasih informasi sebanyak banyaknya bila melihat ada indikasi pemakai apalagi pengedar narkoba yang bergentanyangan, yang beraksi di sekitar anda. jangan diam saja.” tukasnya.

Hal itu juga, ujar Ngili, yang menjadi alasan pihaknya untuk merekrut relawan anti narkoba. “Yang bisa menjadi informan kami, dan bisa menjadi perpanjangan BNN untuk sosialisasi bahaya narkoba. Wadah atau organisasi ini yang sudah dibentuk diharapkan akan mudah berperan di tengah masyarakat. Mendekati masyarakat, mencari informasi dari mulut ke mulut. Dibanding kita dari BNN dan Polri, ruang gerak dan personil sangat terbatas. Gimana mau hadapi kalo gembong narkobanya ribuan, sementara personil kita hanya ratusan. Nah peran relawan ini, dari tim tim pengiat anti narkoba ini berperan aktif perangi peredaran narkoba bersama sama sama dengan BNN dan Polri. Supaya yang seribu ton ini cepat kita ungkap. gitu loh. ” imbuhnya.

Seribu ton ini, ungkapnya sedang berada di tangan pemakai dan pengedar. Dan jika bisa terungkap, berarti kita telah meyelamatkan ribuan jiwa rakyat Indonesia, dan bisa selamatkan kerugian negara yang mencapai ribuan triliun rupiah. “coba pikir 1000 ton itu dijual per satu ton 1 miliyar berarti 1000 ton itu ada 1000 miliyar. Itu bukan angka yang kecil. itu angka yang fantastis dengan dampak yang sangat besar bagi masyarakat kita,” paparnya.

Untuk wilayah Sulawesi utara sendiri, menurut Charles Ngili, belum darurat narkoba. Meski demikian, Sulut sudah masuk dalam kategori darurat zat adiktif lainnya, berupa jenis obat obatan daftar G, sejenis somadril, paramex, komix, ehabon dan miras. “Ini juga membahayakan dan menguatirkan. dan justru ini tidak bisa terlacak dengan baik oleh aparat. kenapa? karena zat adiktif lainnya ini kan legal. Dijual bebas di apotik, di warung warung. Nah peran instansi seperti Balai POM dan Dinas kesehatan harus aktif. Bukan tugas BNN untuk melarang orang jual komix, somadril, ataupun ehabon. Kan perijinan usaha dari pemerintah bukan dari kami. Kami, BNN hanya punya kewenangan dalam penindakan. Nah kalo Sulawesi Utara sudah darurat zat adjektif lainnya, siapa yang salah? siapa yang tidur? sudah tentu dinas terkait itu yang tak berfungsi. mereka tidur. ” ungkapnya dengan nada kecewa.

Ngili juga membeberkan, bahwa pada sejumlah instansi selain BNN memiliki pos anggaran pemberantasan narkoba, seperti dinas kesehatan, dinas pendidikan, dan balai pom. “Mereka itu ada anggarannya. Mau dibikin apa dananya bila pengawasan peredaran obat obatan ini, akhirnya tembus darurat? nah mereka tidur itu. Saya berani katakan ini, karena semua temuan kasus di lapangan yang ada di wilayah Sulawesi Utara, untuk narkoba presentasinya kecil, namun untuk zat adjektif lainnya itu berkembang pesat, dan meningkat. Korbannya bukan saja anak putus sekolah tetapi anak anak mulai dari Taman Kanak-kanak, anak Sekolah Dasar sampai mahasiswa. ini sangat miris,” tandas Ngili prihatin.

Senada dengan kepala BNN Sulut, Direktur Advokasi BNN RI, Yunis Farida Oktoris, mengunkapkan bahwa ribuan ton narkoba yang berhasil masuk di Indonesia, dan tidak keluar lagi ini, karena indonesia memiliki jalur kepulauan dan laut yang cukup luas. “Banyak jalan tikus atau jalur kecil di perairan, di pulau-pulau, yang belum tersentuh aparat kita, karena kerterbatasan jumlah personil. Hal ini juga yang memicu daerah-daerah terluar yang ada di Indonesia menjadi sasaran penyeludupan narkoba terbesar di asia.

“Penyeludupan yang sudah mencapai ribuan ton ini, terdeteksi sudah digunakan oleh 2, 3 persen dari total jumlah penduduk Indonesia yang jumlahnya mencapai 255 juta jiwa. 2,3 persen ini sudah rutin meminta, yang 97,77 persen ini yang rawan untuk meminta, membeli dan terjerumus mengkonsumsi barang haram ini. Hal ini juga disebabkan karena tipikal masyarakat Indonesia yang komsumtif. ” ucap Oktarina.

Direktur Advokasi BNN RI, Yunis Farida Oktoris.

Untuk itu, pihak BNN mengajak kepada seluruh masyrakat di Sulawesi Utara agar sama-sama memerangi peredaran narkoba. “Ajarkan anak-anak kita, saudara-saudara kita agar tidak mudah menerima apa saja dari orang yang tak dikenal maupun orang yang kita kenal dekat. Kalo itu godaan dan rayuan untuk menkonsumsi barang haram beranilah untuk menolak dan melaporkan ke aparat. Ajari hal itu mulai dari sekarang,” pungkasnya.

Sekedari informasi, perekrutan relawan anti narkoba yang digagas BNN RI ini, dilakukan di seluruh wilayah di Indonesia. Sulawesi utara sendiri, sudah ada 1000 relawan dari 11 kabupaten/kota. Ribuan relawan ini, mulai menerima penataran, dan pembinbingaN teknis di lapangan. Dan terkait mandat yang diterima dri BNN RI. Masing masing relawan dibekali sertifikat relawan anti narkoba, juga mendapat PIN relawan yang bernomor khusus yang sudah terregistrasi di BNN RI / jadi baik nama dan data nomor keanggotaan para relawan ini, semua sudah terkoneksi di BNN RI. (A.CT)

EDITOR: M. Iswar Ramadhan

BAGIKAN:
SPONSORED STORIES
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

loading...
To Top