Daerah

Warga Torosiaje Hadapi Bujuk Rayu Untuk Babat Mangrove Jadi Tambak

Mangrove
kawasan mangrove di wilayah torosiaje kini mulai diganggu oleh para pengusaha tambak. foto: rosyid azhar.

GORONTALO,- Bujuk rayu untuk membongkar hutan mangrove menjadi lahan tambak dialami Warga Torosiaje di Kabupaten Pohuwato. Dengan membuka mangrove warga desa diiming-imingi hasil panen bandeng atau udang yang berlimpah oleh para pendatang.

“Sampai saat ini masih ada upaya untuk mengajak warga untuk membuka lahan tambak di hutan mangrove,” kata Umar Pasandre, Ketua Kelompok Sadar Lingkungan (KSL) Paddakauang, Popayato Barat, Minggu (22/10/2017).

Padahal upaya menghutankan kembali pesisir pantai dengan berbagai jenis taman mangrove ini sudah lama dirintis masyarakat. Mereka telah menanami mangrove di kawasan pesisir seluas 40 hektare.

“Mangrove yang sudah kami tanam sudah mencapai puluhan hektare, hingga di Desa Trikora dan Dudewulo, dengan melibatkan siswa sekolah, karang taruna, dan kaum wanita,” kata Umar Pasandre.

Diakui upaya bujuk rayu orang luar untuk membuka mangrove ini merupakan tantangan yang berat. Namun KSL Paddakauang tetap kokoh dengan tekadnya untuk melestarikan mangrove.

Di kawasan Desa Torosiaje dan Torosiaje Jaya merupakan perkampungan Suku Bajo yang sejak awal abad XX telah mendiami daerah ini. Bahkan di Torosiaje Jaya, ribuan warga mendirikan kampung di atas air. Untuk menuju ke permukiman ini harus naik perahu dari daratan sejauh 500 meter.

“Warga Bajo memiliki kearifan lokal untuk memelihara lingkungan agar terus lestari dan memberi daya dukung kepada warga yang seluruhnya bekerja sebagai nelayan. Jangan ada tekanan atau bujukan untuk membabat hutan mangrove,” kata Sugeng Sutrisno, Direktur Japesda, LSM lingkungan yang sejak lama mendampingi warga.

PENULIS: Rosyid Azhar

BAGIKAN:
SPONSORED STORIES
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

<
loading...
To Top