Daerah

Keris Ini Dibuat Dari Meteor dan Logam Terpilih

Keris
Sebuah keris dari campuran batu meteor dan jenis lain dari Jawa Tengah dipamerkan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Gorontalo. Foto: Rosyid Azhar.

GORONTALO,- Batu meteor ini telah menyatu dalam bilah keris membentuk untaian bunga yang menghias bagian logamnya. Keris ini terlihat indah dan paling banyak ditanyakan pengunjung pameran Cagar Budaya di Rumah Adat Dulohupa yang dilaksanakan Balai PelestarianCagar Budaya (BPCB) Gorontalo.

“Keris lurus ini berpamor melati rinonce sumbangan dari Suparjo Rustam mantan Mendagri pada tahun 1987,” kata Purwanto, staf konservasi tosan aji Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Sabtu, (21/10/2017).

Dengan ramah, pria asal Jawa Tengah ini menjelaskan bahwa keris ini dibuat oleh empu dengan bahan baku batu meteor dan logam yang terpilih. Gabungan keduanya dipercaya memberi tuah bagi pemilik pusaka Indnesia ini.

Pada masa tersebut, teknik metalurgi pembuatan keris sudah sangat maju yang dipadu dengan seni tempa yang sangat halus. Tidak hanya kemampuan mencampur bahan, para empu juga melakukan olah batin batin selama proses pembuatan keris.

“Para Mpu tidak hanya sebagai pandai besi namun juga melakukan olah ritual selama proses pembuatan kering sehingga hasilnya benar-benar berkualitas,” jelas Purwanto.

Keris lurus berpamor untaian melati ini diperkirakan dibuat pada abad 17-18 saat tanah baru saja dihujani meteor dari langit.

“Keris ini bernama Tilam Sari berpamor melati rinonce dengan tangguh atau dibuat pada era zaman Mataram Senopaten,” ungkap Purwanto.

Salah satu filosofi yang dimiliki keris ini adalah untuk kewibawaan dalam kehidupan sosial pemiliknya.

Selain keris berbahan meteor ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah juga membawa keris Bendho segodo, Berpamor lawe saukel, Beras wutah yang dipercaya dapat menetralisir terhadap keris yg kami bawa dari energi negatif, Ron nduru, kulit semongko, nggajih, padaringan kebak, padaringan kebak, Ganggeng kanyut, dan pamor mbanyu mili

“Keris adalah budaya asli Indonesia yang telah diakui dunia, mari lestarikan,” kata Faiz, Ketua panitia pameran cagar budaya.

PENULIS: Rosyid Azhar

EDITOR:

BAGIKAN:
SPONSORED STORIES
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

<
loading...
To Top