Opini

Melawan Kepalsuan

foto ilustrasi politea

Hadi Taha

Politik, politik dan politik itulah kalimat yang terus saja menarik di perbincangkan oleh masyarakat pada umumnya terkadang bila mereka mendapat isu bahkan opini di setiap sudut sudut warkop, warung Makan hingga di terminal semuanya menyatakan ini cuma politik. Bahkan diskusi soal politik setiap hari orang tak bosan untuk mengeluarkan kocek hingga berjuta-juta hanya ingin mengkroscek dan memastikan perkembangan terkini soal politik.

Dalam Teori Klasik Aristoles Politik sebuah proses seseorang dalam meraih kekuasaan secara konstitusional maupun non konstisional. Sementara berbagai orang mempresepsikan politik dalam prespektif lain.

Politik sendiri berasal dari bahasa yunani “politea” yang kala itu dalam sebuah seminar yang berlangsung di Gorontalo di tafsirkan dalam guyonan bahasa Gorontalo bahwa politik itu politea politeto dan teto sana teto sini yang artinya bahwa politik itu sering berubah ubah sesuai ruang dan waktu.

Dalam era reformasi saat ini, semua kran demokrasi mulai dibuka. Semua warga bahkan anak kecilpun mulai pandai bediskusi bahkan tahu siapa yang menjadi pemimpin atau wakil rakyat yang akan ia pilih nanti. Apalagi sistem pemilu kita mengunakan tradisi profesional terbuka, dimana para calon dipilih secara langsung dan diperkenankan untuk mengsosialisasikan diri melalui kampanye yang telah di atur oleh perundangan-undangan serta tahapan yang telah di tentukan.

Dalam Pangung kampanye para calon atau kandindat calon sering berkoar-koar meyakinkan para pemilih bahkan seluruh hadirin untuk memilihnya, hingga harus melakukan pengarahan masa kampanye yang jumlahnya memakan dana puluhan, ratusan bahkan jutaaan rupiah. Uang seolah hanya kertas yang didaur ulang, dan instrumen untuk meyakinkan sebagian masyarakat yang tak ingin hadir dalam kampanye. Sehingga para pemilih atau rakyat yang hadir bisa kita kategorikan dalam beberapa kelas, yaitu mereka yang hadir karena sukarela, dipaksa, atau karena di bayar. Bahkan ada rakyat yang cuek, karena tak ingin ambil pusing dan bosan dengan keadaan.

Disetiap pemilu bergantian mereka menyampaikan bahwa yang dilakukan oleh para calon ataupun tim sukses itu hanya palsu, dam tak akan ada perubahan sama sekali, siapapun yang terpilih nantinya.

Itulah fakta yang terjadi bila kita mau buka survey atau pernyataan-pernyataan kecil masyarakat wonu jamepohu jamongaa amy, serta berbagai hal komentar serta presfektif orang terhadap politik. Selain itu pendekatan para pemilih dan pendukung yang berbeda pada sosok seorang calon. Ada pendukung karena calon berasal dari partai politik sehingga bagi partai itu wajib ‘ain mereka mendukung calon tersebut, ada karena ia punya hutang budi pada calon, sehingga ia perlu membalas budi pada calon yang ia dukung, serta ada bawahan sehingga perlu memperjuangkan atasannya ada karena ia simpatik, ada karena penilaian keteladanan serta ada karena Program serta Visi misi yang ditawarkan oleh kandidat serta argumentasi lainnya yang kesemuanya itu tergantung dimana kita berdiri serta mendukung siapa.

Dalam pepatah “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”, pepatah ini mungkin di ibaratkan sebagai kondisi suasana politik kita hari ini, sehingga terkadang suatu kepalsuan muncul dalam diri setiap orang. Mantap pak, keren, gaga dan berbagai pujian lahir dari setiap pengemar. Tak heran bila itu terus terdengar maka itu mengambarkan betapa baiknya politisi tersebut, dan setiap yang hadir pasti akan terpukau.

Disisi lain dalam suasana pasca politisi meninggalkan tempat, berbagai komentar dan diskusi muncul sesuai dengan presfektif masing-masing dari para pengikutnya sesuai dengan tujuan masing masing. Berbagai hal tendensi lahir, ada yang ingin mengkritik tapi melalu Wapri, Ada yang ingin memberi masukan tapi takut dimarahi, ada juga yang ingin melangkah namun takut salah, serta ada juga yang kerjanya hanya memuji karena tak ingin ketinggalan lahan garapan dan lain sebagainya.

Itulah wajah politik kita hari ini. Semuanya bebaur kepalsuan. Kita ingin politik tidak sekedar taktik, tidak sekedar meraih kekuasaan, tapi politik yang saling merangkul bukan memukul, politik yang saling mengajak bukan mengejek, politik yang saling tolong menolong bukan saling sikut, politik yang menghidupkan sesama bukan saling membunuh sesama, politik yang mengedepankan persaudaraan, politik yang menyeru pada persatuan bukan perbedaan.

Semoga kita semua berada pada politik tanpa kepalsuan dan mari politik kita jadikan alat untuk lebih memajukan, Lebih mencerahkan dan lebih berada berperkemanusian Salam SMT.

PENULIS: Nurhadi Yayan Taha

BAGIKAN:
SPONSORED STORIES
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top