Travel

Benteng Orange Cagar Budaya Peninggalan Portugis Di Gorontalo Utara

benteng orange 2
benteng orange saksi sejarah kekuasaan portugis di tanah gorontalo. (foto:istimewa)

GORONTALO UTARA– Salah satu peninggalan sejarah yang cukup menarik di Gorontalo adalah benteng Oranye (Fort Orange). Benteng ini terletak di Bukit Arang yang masuk wilayah administratif Lingkungan I, Desa Dambalo, Kecamatan Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo. Lokasi ini berada sekitar 61 kilometer dari Kota Gorontalo, atau 2 kilometer dari pusat Kota Kwandang, ibukota Kabupaten Gorontalo Utara.


Menurut sejarah, yang pertama kali datang mendiami pesisir pantai Kwandang, adalah suku Buol, kemudian disusul oleh suku Gorontalo yang berasal dari Kerajaan Limutu. Masuknya suku Gorontalo dari Limutu (Limboto) ini, didorong oleh kekhawatiran mereka bahwa wilayah Tomilito akan dikuasai oleh Kerajaan Buol. Pada saat itu, perairan pantai Kwandang berkecamuk perang melawan Mangindano, komplotan bajak laut yang berasal dari Filipina (Mindanawo).

Pada pertengahan abad 15-16, datang bangsa Portugis ke Indonesia, terus menuju ke Timur kemudian menduduki Ternate, Maluku, lalu Sulawesi khususnya Gorontalo melalui Kwandang.

Untuk dapat terus menguasai daerah Gorontalo dan mempertahankan dari serangan musuh (bajak laut) dari Philipina terutama di pesisir utara Kwandang kaum Portugis ini kemudian membangun benteng pertahanan di pesisir pantai utara Kwandang pada 1527.

Benteng ini sendiri dibangun dengan menggunakan tenaga rakyat secara gotong-royong. Untuk mengangkat batu, rakyat berdiri berjejer dan menggulirkan batu-batu itu dari tangan ke tangan, sampai ke tempat tumpukan batu, tempat pembuatan benteng.


Benteng ini dibangun dengan menggunakan bahan seperti batu karang, batu gunung, pasir dan kapur, serta dengan bahan perekatnya ialah getah pelepah daun rumbia, sebab pada waktu itu belum ada semen. Meski demikian benteng ini cukup kuat.

Namun banyaknya bajak laut dari penguasa lokal hingga dari Mangindango (bajak laut Filipina) dan kehadiran bangsa Belanda membuat upaya Portugis ini tidak berhasil dan kemudian meninggalkan wilayah Kwandang.

Pada abad 18, benteng ini diperbaiki oleh bangsa Belanda, dengan menambah bangunan kecil (bastion) di atas bukit yang berfungsi sebagai menara pengintai sekaligus pusat penembakan, dengan menempatkan sebuah meriam.

Penambahan bangunan benteng serta perubahan konstruksi bangunan benteng, mulai memakai semen. Semula, orang Gorontalo menamai benteng ini dengan sebutan benteng (ota) Lalunga yang kemudian diganti menjadi Fort Leinden oleh VOC.

Fort Leiden (Benteng Orange) dipimpin oleh seorang sersan dengan dukungan 12 prajurit lokal. Benteng ini juga menjadi representasi kekuasaan VOC di Gorontalo. Namun akibat pergolakan di daerah lain, terutama akibat Perang Jawa, pada tahun 1832 VOC meninggalkan benteng ini.

Sebagai gantinya, VOC kemudian memfokuskan diri pada penguasaan produksi emas di Sumalata. Sekarang bekas benteng ini dikenal sebagai Benteng Orange,

Kini benteng Oranye menjadi obyek wisata di Bumi Gorontalo Utara yang menjadi salah satu destinasi bagi wisawatan mancanegara maupun wisatawan nusantara.

Editor: Pratiwi Lintang

BAGIKAN:
alterntif text
SPONSORED STORIES
loading...
Loading...
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top