Articles

Ngayau, Tradisi Penggal Kepala Di Suku Dayak

Tarian Perang Suku Dayak
pemuda suku dayak melakukan tarian perang (foto:istimewa)

REPUBLIKPOS– Dahulu ada sebuah tradisi yang cukup mengerikan yang dimiliki suku Dayak. Tradisi ini adalah Ngayau yakni sebuah tradisi memengal kepala ketika sedang berperang atau untuk kepentingan lain.

Hal ini sengaja dilakukan sebagai bukti jika mereka sudah dewasa, atau sebagai simbol kekuatan dan keperkasaan sekaligus untuk memperluas wilayah kekuasaan.

Kepala korban pemenggalan tadi kemudian akan dibawa pulang dan akan dilakukan beberapa upacara dan ritual. Ritual ini sengaja dilakukan untuk menenangkan para arwah korban pemenggalan kepala tadi.

Dalam tradisi ini, hanya kepala orang dewasa saja yang boleh dipenggal semantara anak anak dan wanita biasa hanya dijadikan budak dan tidak ikut dipenggal.

Karena tradisi ini cukup menyeramkan dan seiring kesadaran untuk hidup damai, sejak akhir tahun 1900-an tradisi Ngayau ini mulai ditinggalkan oleh Suku Dayak. Berdasar Perjanjian Tumbang Anoi tradisi Ngayau dihilangkan agar tidak terjadi perselisihan di antara suku Dayak.

Sebelum perjanjian Tumbang Anoi, ada 3 istilah yang sangat ditakuti dalam Suku Dayak, yaitu Hapunu atau saling bunuh, Hakayau atau saling potong kepala, dan Hajipen atau saling memperbudak.

Pada masa sebelum perjanjian Tumbang Anoi, setiap pria Suku Dayak yang telah memiliki rajah (tato) di betis itu pertanda bahwa pria tersebut sudah dewasa dan sudah pernah memenggal kepala orang.

Itulan sedikit informasi mengenai Tradisi Ngayau yang sangat mengerikan di Suku Dayak pedalaman Kalimantan.

BAGIKAN:
SPONSORED STORIES
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

<
loading...
To Top