Opini

Pertandingan Away Debat Pilkada DKI

Balya Nur

Dalam pertandingan sepak bola home and away, hasil seri di kandang lawan berarti menang “nilai.” Jika misalnya skornya 1-1 maka tuan rumah kalah”nilai” karena lawan tandang berhasil memasukan goal di kandang tuan rumah. Bertanding di kandang lawan bukan lagi bicara soal skil, tapi juga mental. Jika mentalnya labil maka skil akan tenggelam.

Debat Babak Final Pilkada DKI 2017 di acara Marta Najwa Metro TV, sama saja dengan Anies bertandang ke “markas” Ahok. Kalau Nana bilang, “Kami sengaja hanya mengundang kedua cagub saja, tanpa pendukungnya. Karena kami ingin adu gagasan, bukan adu sorak, “ malah semakin menegaskan Anies bertanding di kandang lawan. Walaupun sebagai wasit Nana tidak nampak berpihak. Pertandingan di kandang lawan kan bukan soal wasit, tapi masalah penonton.

Kalau soal skor, Anis versus Ahok boleh dibilang seri. Anies memakai startegi menyerang ala total footballnya Belanda dan Ahok memakai strategi bertahan ala grendelnya Italia. Agak aneh memang kalau tuan rumah pakai strategy bertahan. Berarti lawan tandangnya memang berat.

Bagi yang keseringan nonton klompencapir barangkali menonton debat kali ini menganggap Anies “tidak sopan” karena sering menyerang lawan, tapi ini debat Pilkada, bung. Adu program debat Pilkada bukan hanya memaparkan program masing-masing, tapi juga saling mengkritisi program.

Petahana bukan hanya jadi sasaran empuk kritikan, tapi juga sekali-sekali melakukan serangan balik. Misalnya ketika Ahok menganggap KJP Plus punya Anies tidak mendidik, akan merusak mental anak-anak karena anak-anak diiming-imingi uang tunai.

Soal transportasi sebenarnya keduanya punya cara berbeda tapi tujuan sama. Anies menuduh Ahok tidak berpihak pada angkot, sedangkan Anies Baswedan berjanji akan mengintegrasikan transportasi bus dengan angkutan kota, akan mengutamakan subsidi untuk 13 ribu angkot di Jakarta. Programnya bernama Ok On Trip.

Ahok bertahan dengan menyebut angkot tidak memenuhi layanan standar minimum. Ahok akan merangkul angkot dengan memperbaiki armada sebagai layanan penopang busway. Tapi Anies punya cara lain untuk melakukan shot on goal, dia bilang, “Beliau ( Ahok ) sudah 5 tahun di Jakarta, tapi baru 6 bulan memikirkan tentang integrasi. Untung ada kampanye pilkada. Kalau tidak, Pak Basuki tidak akan memikirkan integrasi transportasi umum di Jakarta,” kata Anies. Karena subtansinya adalah sama-sama integrasi transportasi, tendangan Anies hanya mengenai mistar gawang.

Terkadang keduanya juga bermain aman. Soal isu kedekatan Anies dengan keluarga cendana, Anies mengaku, “Bisa jadi kita setuju atau tak setuju dengan kebijakan Soeharto, tapi pendekatannya sangat stabil. Jakarta butuh pendekatan pemimpin yang stabil dan tidak labil,” kata Anies. Tentu saja Anies bukan hanya memuji Soeharto, tapi juga sekaligus menyindir Ahok.

Di luar dugaan Ahok juga memuji Soeharto, bahkan dia mengaku telah menerapkan cara Soeharto dalam hal kesetabilan harga pangan.

Dalam debat, retorika, pemilihan kata menjadi penting. Ahok tidak memiliki itu. Anies tentu saja pakarnya. Dalam hal kepemimpinan, Anies memberi contoh Ahok sebagai pemimpin yang tidak bisa merangkul semua kalangan, contohnya ketika Ahok memaki seorang ibu bahkan menuduhnya maling.

Ahok membela diri dengan mengatakan, orang korup nggak bisa dirangkul. Anies menutup sesi itu dengan manis. “Ahok tidak bisa membedakan antara merangkul dan menegakkan hukum,” kata Anies.

Ketika ditanyakan, apakah Anies bisa seberani Ahok yang banyak memecat anak buahnya karena tidak becus kerja? Dengan cepat dan mantap Anies mengatakan, “Siapa bilang tidak berani? Sekarang saja saya sedang berusaha memecat Pak Basuki jadi gubernur, apalagi cuma memecat anak buahnya,“ kata Anies.

Juga ketika Nana bertanya pada keduanya apakah siap kalah? Anies menjawab, “Kalau saya, yang harus disiapkan adalah menjadi Gubernur. Kalau Pak Basuki, yang harus disiapkan adalah kalau tidak jadi gubernur,” jelas Anies.

Kalau retorika, pemilihan kata diibaratkan ball possesion (penguasaan bola.red) maka dalam hal penguasaan bola, jelas Anies unggul 75 persen. Kalau melihat data statistik pertandingan, walaupun skor kaca mata, tapi Anies unggul dalam shot on goal, penguasaan bola, dan faktor tandang.

Di saat injury time Ahok melakukan blunder, hampir saja terjadi goal bunuh diri. Ahok mengatakan, akan lebih banyak lagi mengumrohkan marbot dan ta’mir masjid, tapi bukan ta’mir masjid penganut aliran wahabi dan SYIAH. “Kita akan pilih Takmir Masjid yang membawa Islam yang Rahmatan Lil ‘alamin dan membawa Khotbah yang sejuk Islam Nusantara,” kata Ahok.

Soal Ahok benci pada Syiah, biar saja jadi urusan Denny Siregar. Apakah Kak Ema akan jadi penengah, atau biarin saja Ahok dan Denny berantem sekalian.

Bukan cuma Ahok, banyak juga yang nggak ngerti aliran, gerakan keagamaan, dan madzhab dalam Islam tapi sok tahu. Misalnya ada yang bilang, “Kalau yang ceramah di acara maulid Nabi adalah ulama Wahabi, gue nggak mau dateng,“

Lho? Nggak jelas kan siapa yang nggak mau dateng? Penceramahnya? Atau yang menganggap setiap ulama yang bergamis dan jenggotan adalah pasti Wahabi?

Ahok nampak sekali tidak bisa membedakan antara ta’mir masjid dan khotib. Dia juga nggak paham apa makna sebenarnya hubungan rahmatan lil alamin dengan apa yang disebut Wahabi.

Kalau soal Islam Nusantara ya dia kayanya cuma nyontek omongan saja. Pokoknya bagi Ahok, muslim yang mendukungnya berarti Islam Nusantara, kalau yang tidak mendukungnya berarti Wahabi dan Syiah. Aduuuh bikin Denny Siregar kehilangan selera nyeruput kopi saja. (*/)

29032017

Penulis: Balya Nur, Penulis Betawi yang Tinggal di Kampung Pinggiran

BAGIKAN:
SPONSORED STORIES
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top