Opini

Hoax, Campur Tangan Teknologi?

2017-01-30_224255

Prolog

Masyarakat Indonesia sedang mengalami salah satu fase di mana terpaan informasi yang diterima begitu besar. Saking besarnya terpaan informasi yang diterima, kadang sulit membedakan antara informasi yang sifatnya fakta dan sifatnya hoax. Kasus hoax sendiri mendapatkan perhatian yang begitu besar mengingat pengaruh yang ditimbulkan oleh informasi hoax sangat besar, berbagai kejadian di dunia internasional dipengaruhi oleh massifnya distribusi informasi hoax di masyarakat, yang terakhir adalah kemenangan Donald Trump pada pemilihan Presiden Amerika Serikat, yang mendapat tuduhan jika kemenangannya tidak bisa dilepaskan dari info hoax yang tersebar luas di sosial media khususnya pada platform Facebook.

Di Indonesia sendiri fenomena hoax begitu meresahkan masyarakat serta pemerintah, informasi hoax begitu mudahnya ditemui di situs-situs online maupun di sosial media, khususnya facebook. Hoax menjadi komoditas baru oleh para distributornya, selain menguntungkan secara politik, informasi hoax juga menguntungkan secara ekonomi. Seperti rilis “Masyarakat Anti Hoax” yang menyebutkan jika portal online penyebar hoax seperti Posmetro dan Nusanews yang mampu meraup keuntungan sebesar Rp600-700 juta perbulannya.

Pemberian “barcode” pada media yang diinisiasi oleh Dewan Pers dan akan berlaku mulai 9 Februari 2017 dikatakan sebagai upaya untuk memerangi maraknya informasi hoax yang ada di media online dan media sosial. Media yang berhak mendapat barcode adalah media yang telah terdaftar dan lolos verfikasi yang dilakukan oleh Dewan Pers.

Namun menjadi pertanyaan besar, apakah pemberian barcode pada media merupakan cara efektif untuk memerangi hoax, atau ada peran teknologi yang membuat hoax begitu mudah tersebar ataukah ada faktor lain yang mendorong mengapa orang lebih suka mencari informasi hoax ketimbang fakta.

Hoax, Algoritma Media Sosial dan Kamar Gema

Media sosial menjadi salah satu instrumen yang digunakan individu untuk berinteraksi dengan individu lain, media sosial dengan segala fitur canggih yang tersemat memudahkan individu dalam mencari informasi atau berita. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pew Research menunjukkan 62% orang mendapatkan informasi/berita melalui media sosial, dan 18% orang melakukan secara rutin.

Facebook menjadi platform media sosial yang dijadikan sumber informasi berdasarkan hasil penelitian tersebut. Hasil penelitian tersebut menunjukkan tren masyarakat yang menjadikan sosial media bukan hanya sebagai intrumen berinteraksi namun juga sebagai sumber berita.

Facebook merupakan media sosial yang sering dijadikan sumber informasi oleh masyarakat, di facebook pulalah berita dan informasi hoax banyak tersebarluas. Banyaknya hoax yang bertebaran di media sosial tentunya berdampak terhadap pola hubungan yang terbangun ditengah masyarakat, terlebih menjelang momen-momen politik seperti pilkada serentak yang akan terlaksana pada bulan Februari.

Presiden Jokowi sendiri telah menganggap penggunaan media sosial telah disalahgunakan, karena sudah mengarah kepada penyebaran kebencian, saling caci serta saling menghujat. Banyak yang mengatakan hal ini disebabkan karena masih banyaknya masyarakat Indonesia yang selalu “mencerna” informasi yang belum valid secara mentah-mentah, serta masih banyaknya media “abal-abal” yang kerjanya memang hanya memproduksi informasi hoax. Namun tak sedikit juga yang menyalahkan facebook sebagai teknologi yang menjadi sumber informasi berita tersebut.

Sebagian dari kita mungkin tak tahu jika media sosial yang kerap kita gunakan cenderung mengurung kita untuk berbeda serta menerima pendapat dengan yang lain. Algoritma yang digunakan oleh media sosial pada umumnya seperti facebook, youtube dan sebagainya mengisyaratkan kita untuk menerima informasi sesuai dengan apa yang kita sukai dan yakini.

Seperti yang disampaikan oleh CEO Facebook, Mark Zuckerberg, di linimasa facebook terdapat banyak sekali post yang bermunculan, sehingga algoritma ini berfungsi untuk memfilter jumlah tampilan post berdasarkan apa yang disukai oleh pengguna facebook. Namun penggunaan algoritma pada facebook ini berdampak buruk pada interaksi yang terjadi di dalam sosial media penggunanya.

Bayangkan jika kita membaca hoax dari media “abal-abal” di facebook, maka algoritma di facebook akan menggangap kita menyukai hal tersebut, sehingga facebook akan mengisi linimasa facebook kita sesuai dengan apa yang kita sukai, hal ini akan mengunci kita untuk mendapatkan informasi yang berlainan serta memberi pandangan dengan hal yang lain.

Kita semua hampir pernah mengalami atau bahkan mendapati di facebook perdebatan antara orang yang membaca berita hoax dan sangat yakin dengan apa yang dibacanya, bahkan sering menganggap orang yang tidak setuju dengannya itu salah. Konsep kamar gema “Echo Chamber” menjelaskan dampak yang ditimbulkan oleh kerja dari algoritma media sosial tersebut. Konsep ini menjelaskan jika seseorang akan cenderung mencari informasi dan berita sesuai dengan apa yang mereka yakini.

penelitian Brendan Nyhan dan Jason Reifler pada tahun 2012 yang berjudul Misinformation and Fact-checking: Research Findings From Social Science, menunjukkan hal tersebut dimana para audiens cenderung menolak informasi jika tidak sesuai dengan apa yang mereka anggap benar, walaupun informasi tersebut terdapat data yang valid. Alih-alih mendapatkan informasi yang beragam, algoritma media sosial justru membuat kita terkurung bersama orang-orang yang setipe dengan kita.

Sosial media sebagai ruang publik yang baru diharapkan menciptakan interaksi yang sehat diantara individu-individu yang memiliki pandangan yang berbeda tidak lagi terjadi akibat algoritma di media sosial tersebut.

Upaya memerangi hoax memang tidak mudah dan memerlukan waktu yang lama, seperti yang dikatakan oleh Heychael, Direktur Remotivi persoalan hoax bukan sekedar mengajak pembaca untuk membaca media berdasarkan prinsip jurnalistik, namun lebih kepada apa yang ingin dipercayai oleh pembaca/masyarakat.

Sehingga media literasi menjadi solusi penting yang harus digiatkan bukan hanya sekedar memberikan barcode kepada media seperti yang direncanakan oleh dewan pers. Memang tidak mudah tapi setidaknya ini harus dimulai dan membutuhkan proses waktu yang sangat panjang.

Penulis: M Iswar Ramadhan, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia

BAGIKAN:
SPONSORED STORIES
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

loading...
To Top