Ragam

Review: Film Negeri Lima Menara [Negeri Para Sahabat Tuhan]

poster-film-negeri-5-menara

Mukadimah

Negeri Lima Menara mulanya adalah sebuah novel karya Ahmad Fuadi yang diadaptasi menjadi film. Novel memiliki pembaca dan film memiliki penonton. Roh keduanya dihidupkan oleh unsur yang berbeda, novel membangun dunia melalui rangkaian kata-kata sementara film membangun dunia dengan rangkaian gambar-gambar bergerak. Imaji linguistik vs imaji visual.

Ada baiknya kita mencoba memahami bahwa film dan novel mempunyai bahasa, aturan, ukuran, gaya, dan nilai tersendiri. Film mempunyai keterbatasan teknis, ruang gerak, dan waktu putar yang sangat terbatas, sementara novel memiliki kebebasan yang dengan leluasa dapat pengarang paparkan dengan kata-kata.

Sebab itu, tidak mungkin memindahkan baris demi baris novel secara utuh ke dalam film. Adaptasi memungkinkan perubahan unsur-unsur cerita, plot, karakter, latar, suasana, gaya, dan tema novel di dalam film. Karena demikian, maka tidak tepat jika para penonton datang ke bioskop untuk menyeragamkan film adaptasi dengan novelnya.

Tuhan, Sahabat, dan Ilmu

Film ini mengisahkan enam santri yang bersahabat saat mereka menimba ilmu di Pondok Pesantren Madani Ponorogo, Jawa Timur. Keenam santri itu berasal dari kampung halaman yang berbeda, namun mereka memiliki mimpi yang sama. Bermimpi menjelajahi belahan dunia lain dan menjadi sukses dimasa akan datang.

Beberapa adegan menampilkan kelucuan, keharuan, semangat, dan rasa bangga. Semua dilakoni dengan akting memukau oleh bintang-bintang muda berbakat yang dipilih dari hasil casting pada tahun 2011, antara lain; Billy Sandy, Ernest Samudra, Rizki Ramdani, Jiofani Lubis, Aris Putra, dan Eriska Rein. Film ini juga menampilkan keindahan lanskap di kota Bukittinggi dan Danau Maninjau, Sumatera Barat.

Film inspiratif, penuh tekad, kerja keras, dan persaudaraan ini menggambarkan pesantren tak hanya melulu urusan memahami Tuhan dan belajar keagamaan. Namun, sekolah pesantren juga sarat dengan keilmuan yang dapat menjadi bekal untuk menata masa depan muridnya di kemudian hari. Itulah yang ditelusuri dan ingin disampaikan oleh Salman Aristo sebagai penulis skenario, dan Affandi A Rachman berhasil menerjemahkan. Dan kita pun berjumpa sebuah negeri yang kaya warna: Indonesia.

Salah satu dramatic point yang tak terlupakan ketika sampai pada adegan Baso akan pergi meninggalkan pesantren dan menuturkan latar belakang hidupnya. Begitu pula saat adegan Baso melakukan aktivitas pengajian dan merawat neneknya di kampung halaman, kita disuguhkan gambar minim dialog, namun Affandi A Rachman selaku sutrdara tak kehilangan naratif. Moment seperti inilah kecerdasan seorang sutradara dituntut dan Affandi berhasil melaluinya dengan mulus.

Pada saat pertama kali nama Affandi Abdul Rachman muncul di ranah perfilman tanah air dengan karya perdananya Pencarian Terakhir, kami telah menaruh harapan besar akan lahir film-film berkualitas besutan anak negeri. Setelah merunut beberapa filmnya dari beragam genre, Affandi telah membuktikan dirinya layak disebut sebagai sutradara muda berbakat, salah satu aset berharga yang dimiliki bangsa ini melalui karya-karya visualnya.

Dari sisi teknis, selain tata sinematografi yang apik, film Negeri Lima Menara juga dibekali cerita yang memikat, bahkan skenario Salman Aristo mengesankan kematangan dengan dialog minim teori-teori yang menjemukan. Meskipun di menit-menit awal alur cerita berjalan datar dan terkesan lambat, tetapi secara keseluruhan film ini nyaris utuh dan memenuhi estetika sebuah film. Selamat menonton!

Penulis: Ibrahim Cambo

BAGIKAN:
SPONSORED STORIES
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top