Kesehatan

Wajibkan Orang Sakit Berpuasa ?

orang sakit berpuasa

Hukum Puasa Untuk Orang Sakit – Kalau seseorang itu sakit, haruskah dia tetap berpuasa? Sampai sekarang, jawaban untuk pertanyaan ini berbeda-beda satu sama lain. Karena itu, mejaga kesehatan di bulan puasa harus tetap diprioritaskan. Dalam berpuasa sangat penting dimulai dengan sahur yang sehat dan nutrisi yang bisa memenuhi kebutuhan energi orang yang berpuasa sepanjang hari sampai waktunya berbuka. Kalau perlu, konsumsilah suplemen kesehatan, vitamin atau obat maag supaya ibadahnya tidak terganggu di tengah-tengah.

Tidak menjaga kesehatan tubuh saat menjalankan ibadah puasa tentu efeknya justru akan mengganggu pelaksanaan ibadah puasa itu sendiri, misalnya seseorang berpuasa dan pada akhirnya seharian lemas dan tidak bisa berbuat apapun, kerja tidak produktif, belajar tidak bisa konsen dan bahkan saat waktu shalat pun jadi tidak fokus dan ujungnya malah jatuh sakit.

Nah, apakah orang sakit harus berpuasa? Allah berfirman:

“Siapa yang sakit atau melakukan safar (kemudian dia tidak berpuasa) maka dia mengganti di hari-hari yang lain. Allah menginginkan kemudahan untuk kalian, dan tidak menghendaki kesulitan…” (QS. Al-Baqarah: 185).

Jadi, ada baiknya orang yang sedang sakit tidak memaksakan diri menjalani ibadah puasa karena bisa digantikan dengan berpuasa pada saat sehat nanti, itulah salah satu langkah bijak yang dianjurkan oleh agama Islam.

Orang yang sakit ada 2 macam:

1. Orang yang sakit berat, atau penyakitnya menahun (tahunan), tidak ada harapan untuk sembuh. Seperti kanker parah. Orang mengalami sakit semacam ini tidak wajib puasa. Karena orang semacam ini sangat kecil harapannya untuk bisa sembuh, sementara dia tidak sanggup untuk puasa karena sakit yang dideritanya.

Kewajiban orang ini adalah membayar fidyah, sejumlah hari puasa yang dia tinggalkan.


2. Orang yang sakitnya ringan atau tidak menahun atau hanya sementara, seperti pilek dan semacamnya. Sakit semacam ini ada 3 keadaan:

a. Dia masih mampu untuk berpuasa dan itu tidak memberatkannya, serta puasa tidak banyak berpangaruh terhadap puasanya, maka orang ini wajib berpuasa, karena tidak ada udzur baginya untuk meninggalkan puasa. Misal, pilek ringan, luka tidak parah, dst.

b. Dengan berpuasa akan terlalu memberatkan dirinya, meskipun andai dia berpuasa, itu tidak membahayakannya. Puasa dalam kondisi ini hukumnya makruh, karena berarti tidak mengambil keringanan dari Allah, disamping orang ini memberatkan dirinya.

c. Dengan puasa akan membahayakan dirinya, misalnya, sakitnya akan bertambah parah atau bahkan mengancam kematian. Dalam kondisi ini dia haram untuk berpuasa, karena puasa akan membahayakan dirinya. Allah berfirman:

وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً

“Janganlah kalian membunuh diri kalian. Sesungguhnya Allah Maha kasih kepada kalian.” (QS. An-Nisa; 29)

Di ayat yang lain, Allah berfirman:

وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Janganlah kalian melemparkan diri kalian pada kebinasaan…” (QS. Al-Baqarah: 159).

An-Nawawi mengatakan:

“Bahaya puasa bagi orang yang sakit bisa diketahui, baik orang yang sakit itu merasakan apa yang terjadi pada dirinya, atau berdasarkan keterangan dokter yang terpercaya.”

Apabila orang sakit jenis ini tidak berpuasa, maka dia wajib mengqadha sejumlah hari yang dia tinggalkan, setelah dia sembuh. Jika dia mati sebelum sembuh maka dia gugur darinya kewajiban qadha, karena kewajibannya adalah mengqadha di hari yang lain setelah sembuh, sementara dia tidak mampu. (Berbagai Sumber)

BAGIKAN:
SPONSORED STORIES
loading...
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top